Kekuatan Sejati di Sujud Terakhir

Journey Walisongo
0

 

Ilustrasi seorang gadis Muslimah yang sedang sujud di malam hari mencari ketenangan dan kekuatan (Doc.Pinterest)


Langit sore itu berwarna jingga pekat, sama pekatnya dengan beban yang dirasakan Lia. Di meja makan suara nyaring Karin si sulung yang sedang kuliah Akuntansi mendominasi obrolan menggelegar membahas kesulitan kuliahnya. Di sampingnya ada Budi si bungsu yang cerdas dan ceria merengek tentang nilai matematikanya yang sempurna tapi dirasa kurang olehnya.


Lia yang berada di tengah hanya mengaduk pelan nasi gorengnya. Usianya tujuh belas kelas dua SMA tapi kehadirannya sering terasa seperti bayangan.


Lia, kamu dengar kan? Ayolah, jangan lemah begitu tegur Karin tanpa menoleh. Suaranya mengandung nada meremehkan yang sudah sangat akrab di telinga Lia. Sebagai anak tengah kamu harus jadi jembatan. Kalau aku sibuk kamu yang urus Budi. Jangan lemah lah. perempuan itu harus kuat harus sigap.


Budi ikut menyahut dengan nada manja iya Kak Lia. Kamu harusnya sudah belajar keras sekarang. Aku dengar Kak Karin bilang tes masuk universitasmu lebih sulit karena kamu mau ambil Ekonomi. Jangan kecewakan Ayah dan Ibu, ya.


Kalimat terakhir itu "Jangan kecewakan Ayah dan Ibu" selalu menjadi ‘motivasi’ yang mematikan buat Lia.


Lia ingin sekali bilang "Aku lelah". Aku juga punya mimpiku sendiri. Aku ingin sekali bilang aku takut dan butuh didengar. Aku ingin bilang aku sudah belajar sampai Subuh tadi, tapi tidak ada yang bertanya. Namun, kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokan menjadikan benjolan pahit yang sulit ditelan.


Ayah dan Ibu adalah orang tua yang baik, pekerja keras dan taat beribadah. Mereka tidak pernah memukul atau memaki. Namun, harapan mereka adalah cetakan yang sempit. Karin adalah masa depan. Budi adalah kebanggaan dan Lia? Lia adalah penopang keluarga dan sosok yang bisa diandalkan.


Lia, sapa Ayah setelah makan malam, sambil menepuk punggung Lia kuat-kuat. Bagaimana pelajaranmu? Besok malam kita ke Masjid At- Tin. Kita salat Isya berjamaah, lalu kamu dengar ceramah Ustaz tentang ujian dan kesabaran. 

Lia hanya mengangguk "Iya, yah".


Ayah tersenyum bangga. Anakku memang yang paling bisa diandalkan. Yang paling kuat menahan diri yang paling tenang. Setelah kamu sukses masuk Ekonomi, kita akan lebih sering pergi berdua, Nak. Ayah yakin, kamu adalah harapan terbesar kami. Jangan pernah buat kami kecewa.


Malam itu, Lia mengambil wudu. Air dingin membasuh wajahnya, terasa menyegarkan namun tidak menghilangkan rasa sesak di dada. Ia membuka sajadah. Di keheningan kamarnya, saat semua orang sudah terlelap, Lia mulai salat Tahajud.


Ia tahu, tuntutan Karin agar ia kuat dan harapan Budi agar ia sukses adalah manifestasi dari cinta yang salah tempat. Mereka melihat Lia sebagai fungsi, bukan sebagai individu yang juga rapuh.


Saat sujud, Lia menangis tanpa suara. Air mata itu membasahi sajadah, membawa serta segala kepenatan dan kebisuan yang selama ini ia pikul.

 

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “mereka memintaku kuat, padahal aku hamba-Mu yang lemah. Mereka ingin aku menjadi harapan, hanya engkaulah satu-satunya harapan. Mereka tidak mendengar suaraku, Ya Rabb. Tapi engkau maha Mendengar .”


Ia teringat sebuah hadist, ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).


Sabar, Kata itu seperti pelukan hangat yang menenangkan. Kekuatan sejati bukanlah menanggung beban sendirian, tapi berserah pada-Nya. Kekuatan sejati adalah menanggapi tuntutan dunia dengan hati yang terikat pada akhirat.


Lia menyadari, ia tidak perlu memenangkan pengakuan dari kakak dan adiknya. Ia tidak perlu memikul beban harapan yang tidak sebanding dari orang tuanya. Yang ia butuh kan hannyalah satu: memenangkan rida Allah. Ia berdiri kembali untuk rakaat terakhir. Tubuhnya terasa ringan.


Keesokan paginya, Lia bangun dengan mata sembap, tetapi hatinya lebih lapang.


Di meja sarapan, Karin kembali membahas rencana belajarnya. “Lia, kamu harus ikut bimbingan belajar yang ini, mahal tapi terjamin. Aku sudah bilang ke Ayah.”


Lia menatap Karin, kali ini bukan dengan kebisuan, tapi dengan ketenangan yang baru.

 

“Terima kasih, Kak Karin,” jawabnya pelan, jelas, dan tegas. “Tapi aku sudah punya caraku sendiri. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Hasilnya, aku serahkan kepada Allah. Aku akan ikut bimbel yang sesuai dengan kebutuhanku, bukan yang paling mahal.”


Karin terdiam, terkejut mendengar adiknya menyuarakan pilihan.


Budi memandang Lia. Ayah dan Ibu pun ikut menoleh. Lia tahu, ia mungkin tidak akan pernah didengar sepenuhnya oleh keluarganya, tetapi malam tadi... ia telah didengar oleh penciptanya.


Di dalam hati, Lia berjanji: ia akan tetap berusaha keras, bukan karena tuntutan, tapi sebagai bentuk ‘syukur’ atas akal yang diberikan Allah. Ia akan tetap menyayangi keluarganya, karena itu adalah kebajikan yang diajarkan Islam.


Namun, ia tidak akan lagi membiarkan harapan orang lain merenggut kedamaiannya. “Ia menemukan kekuatannya yang sesungguhnya bukan dari pujian atau pengakuan manusia, melainkan dari ikatan batinnya yang hening bersama Yang Maha Mandiri dan Menopang Segalanya.”


Lia tersenyum. Langit  pagi itu tidak lagi jingga pekat, tetapi biru cerah. Ia siap menghadapi hari, bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai hamba yang kuat karena bersandar pada Yang Maha kuat.


Penulis: Ayunda Puji Asih 

Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)