Ilustrasi seorang gadis Muslimah yang sedang sujud di malam hari mencari ketenangan dan kekuatan (Doc.Pinterest)
Langit
sore itu berwarna jingga pekat, sama pekatnya dengan beban yang dirasakan Lia.
Di meja makan suara nyaring Karin si sulung yang sedang kuliah Akuntansi mendominasi
obrolan menggelegar membahas kesulitan kuliahnya. Di sampingnya ada Budi si
bungsu yang cerdas dan ceria merengek tentang nilai matematikanya yang sempurna
tapi dirasa kurang olehnya.
Lia yang
berada di tengah hanya mengaduk pelan nasi gorengnya. Usianya tujuh belas kelas
dua SMA tapi kehadirannya sering terasa seperti bayangan.
Lia,
kamu dengar kan? Ayolah, jangan lemah begitu tegur Karin tanpa menoleh. Suaranya
mengandung nada meremehkan yang sudah sangat akrab di telinga Lia. Sebagai anak
tengah kamu harus jadi jembatan. Kalau aku sibuk kamu yang urus Budi. Jangan
lemah lah. perempuan itu harus kuat harus sigap.
Budi
ikut menyahut dengan nada manja iya Kak Lia. Kamu harusnya sudah belajar keras
sekarang. Aku dengar Kak Karin bilang tes masuk universitasmu lebih sulit
karena kamu mau ambil Ekonomi. Jangan kecewakan Ayah dan Ibu, ya.
Kalimat
terakhir itu "Jangan kecewakan Ayah dan Ibu" selalu menjadi ‘motivasi’
yang mematikan buat Lia.
Lia
ingin sekali bilang "Aku lelah". Aku juga punya mimpiku sendiri. Aku ingin
sekali bilang aku takut dan butuh didengar. Aku ingin bilang aku sudah belajar
sampai Subuh tadi, tapi tidak ada yang bertanya. Namun, kata-kata itu hanya
tertahan di tenggorokan menjadikan benjolan pahit yang sulit ditelan.
Ayah
dan Ibu adalah orang tua yang baik, pekerja keras dan taat beribadah. Mereka
tidak pernah memukul atau memaki. Namun, harapan mereka adalah cetakan yang
sempit. Karin adalah masa depan. Budi adalah kebanggaan dan Lia? Lia
adalah penopang keluarga dan sosok yang bisa diandalkan.
Lia, sapa Ayah setelah makan malam, sambil menepuk punggung Lia kuat-kuat. Bagaimana pelajaranmu? Besok malam kita ke Masjid At- Tin. Kita salat Isya berjamaah, lalu kamu dengar ceramah Ustaz tentang ujian dan kesabaran.
Lia hanya mengangguk "Iya, yah".
Ayah
tersenyum bangga. Anakku memang yang paling bisa diandalkan. Yang paling kuat
menahan diri yang paling tenang. Setelah kamu sukses masuk Ekonomi, kita akan
lebih sering pergi berdua, Nak. Ayah yakin, kamu adalah harapan terbesar kami.
Jangan pernah buat kami kecewa.
Malam
itu, Lia mengambil wudu. Air dingin membasuh wajahnya, terasa menyegarkan namun
tidak menghilangkan rasa sesak di dada. Ia membuka sajadah. Di keheningan
kamarnya, saat semua orang sudah terlelap, Lia mulai salat Tahajud.
Ia
tahu, tuntutan Karin agar ia kuat dan harapan Budi agar ia sukses
adalah manifestasi dari cinta yang salah tempat. Mereka melihat Lia sebagai
fungsi, bukan sebagai individu yang juga rapuh.
Saat
sujud, Lia menangis tanpa suara. Air mata itu membasahi sajadah, membawa serta
segala kepenatan dan kebisuan yang selama ini ia pikul.
“Ya
Allah,” bisiknya lirih, “mereka memintaku kuat, padahal aku hamba-Mu yang
lemah. Mereka ingin aku menjadi harapan, hanya engkaulah satu-satunya harapan. Mereka
tidak mendengar suaraku, Ya Rabb. Tapi engkau maha Mendengar .”
Ia
teringat sebuah hadist, ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh
urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu
baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar dan itu baik
baginya.” (HR. Muslim).
Sabar,
Kata itu seperti pelukan hangat yang menenangkan. Kekuatan sejati bukanlah
menanggung beban sendirian, tapi berserah pada-Nya. Kekuatan sejati adalah
menanggapi tuntutan dunia dengan hati yang terikat pada akhirat.
Lia menyadari, ia tidak perlu memenangkan pengakuan dari kakak dan adiknya. Ia tidak perlu memikul beban harapan yang tidak sebanding dari orang tuanya. Yang ia butuh kan hannyalah satu: memenangkan rida Allah. Ia berdiri kembali untuk rakaat terakhir. Tubuhnya terasa ringan.
Keesokan
paginya, Lia bangun dengan mata sembap, tetapi hatinya lebih lapang.
Di
meja sarapan, Karin kembali membahas rencana belajarnya. “Lia, kamu harus ikut
bimbingan belajar yang ini, mahal tapi terjamin. Aku sudah bilang ke Ayah.”
Lia
menatap Karin, kali ini bukan dengan kebisuan, tapi dengan ketenangan yang
baru.
“Terima
kasih, Kak Karin,” jawabnya pelan, jelas, dan tegas. “Tapi aku sudah punya
caraku sendiri. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Hasilnya, aku serahkan kepada
Allah. Aku akan ikut bimbel yang sesuai dengan kebutuhanku, bukan yang paling
mahal.”
Karin
terdiam, terkejut mendengar adiknya menyuarakan pilihan.
Budi
memandang Lia. Ayah dan Ibu pun ikut menoleh. Lia tahu, ia mungkin tidak akan
pernah didengar sepenuhnya oleh keluarganya, tetapi malam tadi... ia telah
didengar oleh penciptanya.
Di
dalam hati, Lia berjanji: ia akan tetap berusaha keras, bukan karena tuntutan,
tapi sebagai bentuk ‘syukur’ atas akal yang diberikan Allah. Ia akan tetap
menyayangi keluarganya, karena itu adalah kebajikan yang diajarkan Islam.
Namun,
ia tidak akan lagi membiarkan harapan orang lain merenggut kedamaiannya. “Ia
menemukan kekuatannya yang sesungguhnya bukan dari pujian atau pengakuan
manusia, melainkan dari ikatan batinnya yang hening bersama Yang Maha Mandiri
dan Menopang Segalanya.”
Lia
tersenyum. Langit pagi itu tidak lagi
jingga pekat, tetapi biru cerah. Ia siap menghadapi hari, bukan sebagai
bayangan, melainkan sebagai hamba yang kuat karena bersandar pada Yang Maha
kuat.
Penulis:
Ayunda Puji Asih
Editor: Hanifah Shabrina