Adab Hilang di Kolom Komentar: Krisis Akhlak Muslim di Era Digital

Journey Walisongo
0
Ilustrasi sedang Bermain Media Sosial. (Doc. Pinterest.com)


Kita berada di tengah lautan informasi, tempat di mana jari lebih cepat bergerak daripada akal. Sayangnya, kolom komentar di berbagai platform digital kini telah menjadi saksi bisu, bahkan panggung utama, dari apa yang bisa kita sebut sebagai krisis adab dan akhlak dalam komunitas Muslim.


Fenomena ini memprihatinkan, alih-alih menjadi umat manusia yang rahmatan lil ‘alamin, yang menebar kedamaian, banyak Muslim digital justru tampil dengan bahasa kasar, caci maki, ghibah (menggunjing), hingga penyebaran fitnah yang mudah terpicu oleh perbedaan pendapat sepele. Kecepatan berkomentar sering kali mengalahkan kebutuhan untuk tabayyun (klarifikasi) atau sekadar menimbang baik buruknya sebuah kata. Adab yang selama ini dijunjung tinggi dalam majelis taklim atau interaksi fisik, seolah-olah hilang total di balik anonimitas layar.


Kehancuran Adab Digital

Muslim, sebagai pewaris risalah mulia, seharusnya menjadi contoh terbaik dalam bertutur kata, baik di dunia nyata maupun maya. Namun, yang kita saksikan adalah sebaliknya. Mudah sekali kita jumpai:


  1. Menghakimi: Vonis tak berdasar terhadap keimanan atau niat orang lain.
  2. Bahasa yang kasar: Menggunakan kata-kata yang jauh dari tuntunan agama, bahkan kotor.
  3. Fanatisme yang berlebihan: Merendahkan kelompok atau pendapat golongan lain dengan kata-kata yang menyakitkan. 

Ironisnya, perangkat digital yang seharusnya menjadi alat dakwah dan silaturahmi, kini menjelma menjadi senjata untuk melukai dan memecah belah persatuan.


Dalil tentang Lisan dan Timbangan Akhirat

Dalam Islam, menjaga lisan adalah fondasi keimanan. Allah Swt. dan Rasul-Nya telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya lisan, dan ini berlaku universal, termasuk saat lisan itu diwakilkan oleh jari-jemari yang mengetik.


1. Perintah Berkata Baik atau Diam

Nabi Muhammad saw. telah mewasiatkan sebuah prinsip yang sangat relevan dengan etika berkomentar dalam hadisnya:


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam konteks digital, berkata baik berarti mengetik yang bermanfaat, menyejukkan, dan tidak menyakiti. Jika kita tak mampu mengetik kebaikan, maka diam (tidak berkomentar) adalah pilihan yang lebih selamat dan sesuai tuntunan.


2. Bahaya Lisan

Lisan (atau dalam hal ini, tulisan) adalah penentu nasib di akhirat. Banyak dosa yang membawa seseorang ke dalam neraka justru berasal dari ucapan yang diremehkan. Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadist:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ


Artinya:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, padahal ia tidak menganggapnya penting, sehingga ia terjerumus ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)


Berapa banyak komentar pedas yang kita anggap remeh, namun di sisi Allah ia adalah kalimat yang mendatangkan murka? Krisis ini menuntut kita untuk mengingat bahwa setiap huruf yang diketik akan dipertanggungjawabkan di Hari Perhitungan.


Solusi: Menghidupkan Kembali Rasa Takut

Krisis akhlak Muslim Era digital ini hanya bisa diatasi dengan satu cara, yaitu dengan menghidupkan kembali rasa takut kepada Allah Swt. di hadapan keyboard.


Kita perlu tanamkan kesadaran bahwa dunia maya bukanlah zona bebas dosa. Perintah agama, seperti larangan ghibah, fitnah, dan caci maki, tetap berlaku penuh di timeline dan kolom komentar. Jika kita malu dilihat orang saat berbuat buruk di dunia nyata, seharusnya rasa malu dan takut kita kepada Allah yang Maha Melihat jauh lebih besar ketika kita sendirian mengetik hal buruk.


Mari kita jadikan jari kita sebagai duta kebaikan, alat untuk menebar salam dan hikmah, bukan panah caci maki. Mengubah keyboard dari alat perang menjadi alat damai, itulah tugas mendesak Muslim di era digital hari ini.


Penulis: Luzyana Artanti

Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)