Kita berada di tengah
lautan informasi, tempat di mana jari lebih cepat bergerak daripada akal.
Sayangnya, kolom komentar di berbagai platform digital kini telah menjadi saksi
bisu, bahkan panggung utama, dari apa yang bisa kita sebut sebagai krisis adab
dan akhlak dalam komunitas Muslim.
Fenomena ini memprihatinkan,
alih-alih menjadi umat manusia yang rahmatan lil ‘alamin, yang menebar
kedamaian, banyak Muslim digital justru tampil dengan bahasa kasar, caci maki,
ghibah (menggunjing), hingga penyebaran fitnah yang mudah terpicu oleh
perbedaan pendapat sepele. Kecepatan berkomentar sering kali mengalahkan
kebutuhan untuk tabayyun (klarifikasi) atau sekadar menimbang baik buruknya
sebuah kata. Adab yang selama ini dijunjung tinggi dalam majelis taklim atau
interaksi fisik, seolah-olah hilang total di balik anonimitas layar.
Kehancuran Adab Digital
Muslim, sebagai pewaris
risalah mulia, seharusnya menjadi contoh terbaik dalam bertutur kata, baik di
dunia nyata maupun maya. Namun, yang kita saksikan adalah sebaliknya. Mudah
sekali kita jumpai:
- Menghakimi: Vonis tak berdasar terhadap keimanan atau niat orang lain.
- Bahasa yang kasar: Menggunakan kata-kata yang jauh dari tuntunan agama, bahkan kotor.
- Fanatisme yang berlebihan: Merendahkan kelompok atau pendapat golongan lain dengan kata-kata yang menyakitkan.
Ironisnya, perangkat digital yang seharusnya menjadi alat dakwah dan silaturahmi, kini menjelma menjadi senjata untuk melukai dan memecah belah persatuan.
Dalil tentang Lisan dan
Timbangan Akhirat
Dalam Islam, menjaga lisan adalah fondasi keimanan. Allah Swt. dan Rasul-Nya telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya lisan, dan ini berlaku universal, termasuk saat lisan itu diwakilkan oleh jari-jemari yang mengetik.
1. Perintah Berkata Baik
atau Diam
Nabi Muhammad saw. telah
mewasiatkan sebuah prinsip yang sangat relevan dengan etika berkomentar dalam
hadisnya:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau
diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks digital, berkata baik berarti mengetik yang bermanfaat, menyejukkan, dan tidak menyakiti. Jika kita tak mampu mengetik kebaikan, maka diam (tidak berkomentar) adalah pilihan yang lebih selamat dan sesuai tuntunan.
2. Bahaya Lisan
Lisan (atau dalam hal
ini, tulisan) adalah penentu nasib di akhirat. Banyak dosa yang membawa
seseorang ke dalam neraka justru berasal dari ucapan yang diremehkan. Nabi
Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadist:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Artinya:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, padahal ia tidak menganggapnya penting, sehingga ia terjerumus ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)
Berapa banyak komentar
pedas yang kita anggap remeh, namun di sisi Allah ia adalah kalimat yang
mendatangkan murka? Krisis ini menuntut kita untuk mengingat bahwa setiap huruf
yang diketik akan dipertanggungjawabkan di Hari Perhitungan.
Solusi: Menghidupkan
Kembali Rasa Takut
Krisis akhlak Muslim Era digital ini hanya bisa diatasi dengan satu cara, yaitu dengan menghidupkan kembali rasa takut kepada Allah Swt. di hadapan keyboard.
Kita perlu tanamkan
kesadaran bahwa dunia maya bukanlah zona bebas dosa. Perintah agama, seperti
larangan ghibah, fitnah, dan caci maki, tetap berlaku penuh di timeline dan
kolom komentar. Jika kita malu dilihat orang saat berbuat buruk di dunia nyata,
seharusnya rasa malu dan takut kita kepada Allah yang Maha Melihat jauh lebih
besar ketika kita sendirian mengetik hal buruk.
Mari kita jadikan jari
kita sebagai duta kebaikan, alat untuk menebar salam dan hikmah, bukan panah
caci maki. Mengubah keyboard dari alat perang menjadi alat damai, itulah tugas
mendesak Muslim di era digital hari ini.
Penulis: Luzyana Artanti
Editor: Hanifah Shabrina