Mentari sore menyinari bilik kecil di pojok panti jompo itu, menerobos masuk lewat jendela berdebu. Di sana, duduklah Kakek Harun, tubuhnya renta, pandangannya sering kali menerawang jauh. Hari-harinya kini hanyalah rutinitas sunyi, ditemani deru napasnya sendiri dan bunyi jarum jam. Ia tak pernah banyak bicara, kecuali ketika Suster Maya menjenguknya.
Suster Maya adalah seorang perawat muda dengan senyum hangat dan mata yang memancarkan ketulusan. Ia tahu Kakek Harun bukan hanya sakit fisik, tapi juga hati.
"Kakek, hari ini sudah minum obatnya?" tanya Suster Maya sambil merapikan selimut.
Kakek Harun mengangguk pelan. "Sudah, Nak. Terima kasih ya." Suster Maya duduk di kursi kayu di samping ranjang. "Kakek terlihat gelisah. Ada yang Kakek pikirkan?."
Kakek Harun menghela napas panjang. "Aku hanya memikirkan pengampunan, Nak. Aku pernah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Aku pernah melakukan kesalahan besar sebelumnya. Kesalahan yang menyebabkan anakku pergi dariku dan aku. . . aku belum memiliki kesempatan untuk meminta maaf sebelum ia tiada. Sudah puluhan tahun, tapi beban ini tak pernah hilang."
Wajahnya menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa begitu jauh dari kedamaian, terperangkap dalam penyesalan yang tak berujung. Suster Maya terdiam sejenak. Dia bukan seorang tokoh agama, namun dia adalah orang yang yakin akan kekuatan rahmat dan kasih sayang Tuhan.
"Kakek Harun," katanya lembut, sambil memegang tangan Kakek yang sudah keriput itu. "Tidakkah Kakek percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengampun? Bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu?"
Kakek Harun mendongak, ada sedikit kerlip harapan di matanya yang sayu. "Aku tahu, Nak. Tapi... apakah pengampunan itu juga berlaku untuk dosa yang tak termaafkan oleh manusia yang kita sakiti?."
"Tentu, Kakek," jawab Suster Maya mantap.
"Pengampunan dari Tuhan tidak ditentukan oleh besar kecilnya kesalahan kita di hadapan orang lain, tetapi oleh ketulusan dalam bertobat. Meskipun Kakek mungkin tidak dapat meminta maaf secara langsung kepada anak Kakek saat ini, namun Kakek bisa memohonkan ampunan dan rahmat untuknya. Kakek bisa menyalurkan penyesalan Kakek menjadi amal kebaikan dengan kesabaran di sini, dengan doa yang tak putus, dengan memaafkan diri sendiri."
Ia mengambil sebuah buku kecil dari tasnya sebuah buku doa sederhana dan membukanya. "Lihat, akek. Di sini tertulis, '...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az-Zumar: 53).'" Suster Maya menutup buku itu dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Kakek, jika Kakek benar-benar menyesal, tunjukkan itu dalam bentuk perubahan hati dan iman yang lebih kuat. Mohonlah ampunan, bukan hanya sekali, tapi setiap hari. Jadikan sisa hidup Kakek sebagai ladang ibadah. Itu adalah bentuk pengampunan yang paling murni."
Malam itu, sesuatu terasa berbeda di kamar Kakek Harun. Setelah Suster Maya pergi, Kakek Harun meraih buku doa itu. Ia tak pernah merasa sesiap ini. Di bawah cahaya rembulan yang samar, ia mengangkat tangannya.
Suara parau itu akhirnya pecah, bukan karena keluh kesah, melainkan karena permohonan tulus. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan beban puluhan tahun. Ia memohon ampunan untuk dirinya, memohon rahmat bagi mendiang anaknya. Bukan hanya kata-kata, tapi jiwanya yang sedang berserah diri.
***
Keesokan harinya, saat Suster Maya datang, ia melihat Kakek Harun duduk tegak menghadap jendela. Kakek Harun menoleh, dan senyum pertama yang tulus dan damai terukir di wajahnya yang keriput.
"Suster Maya," katanya, suaranya lebih jernih. "Aku merasa... ringan. Aku tahu perjalananku belum selesai, tapi aku merasa Cahaya itu sudah masuk."
Ia menunjuk ke luar jendela, di mana matahari pagi sedang bersinar terang. Suster Maya ikut tersenyum. Ia tahu, cahaya itu bukan hanya cahaya mentari, melainkan cahaya dari dalam, cahaya iman yang kembali menyala.
Pengampunan itu telah datang, bukan dari kata-kata, melainkan dari keyakinan hati bahwa tak ada pengampunan dosa yang lebih besar, selain dari Rahmat-Nya.
TAMAT
Penulis: Luzyana Artanti
Editor: Hanifah Shabrina