Sebagai makhluk yang hidup bersosial, kita tidak dapat terlepas dari orang lain. Keterikatan dalam hubungan sosial inilah, yang menyebabkan respon berbeda-beda dari setiap orang. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti akan dihadapkan pada kesulitan, kesusahan, dan berbagai macam ujian yang menguji keimanan dan ketenangan hati. Masa-masa sulit ini terkadang terasa sangat berat, membuat jiwa gundah, dan seolah tidak ada jalan keluar.
Namun, dalam tradisi spiritual dan ajaran Islam, terdapat prinsip-prinsip dan amalan mendasar yang berfungsi sebagai "obat penenang hati" dan kunci untuk meraih kelapangan jiwa. Para ahli hikmah (orang-orang bijak) telah merumuskan beberapa hal inti yang, jika diamalkan dengan keyakinan penuh, dapat menjadi perantara (wasilah) bagi Allah untuk mengangkat beban dan mengganti kesusahan dengan kemudahan.
Mengutip dalam kitab Nashoihul Ibad, dijelaskan terdapat tiga hal utama yang diyakini dapat menghilangkan kesusahan dan mendatangkan ketenangan dalam kehidupan seorang hamba:
1. Dzikir Kepada Allah (Mengingat Allah)
Kesusahan dan kegelisahan sering kali muncul karena fokus pikiran terpusat pada masalah, kerugian, atau ketakutan akan masa depan. Dzikir dapat menjadi obat atas segala kegelisahan yang dirasakan, serta berfungsi sebagai pengalih fokus yang kuat. Ketika lisan dan hati seseorang sibuk menyebut keagungan dan kekuasaan Allah, secara otomatis ia melepaskan ketergantungan pada kekuatan dirinya sendiri dan menyerahkan urusan kepada Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang membawa kedamaian bagi diri.
Allah SWT mempertegasnya dalam Q.S Ar-Ra'd: 28:
الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا ÙˆَتَØ·ْÙ…َÙ‰ِٕÙ†ُّ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ بِذِÙƒْرِ اللّٰÙ‡ِۗ اَÙ„َا بِذِÙƒْرِ اللّٰÙ‡ِ تَØ·ْÙ…َÙ‰ِٕÙ†ُّ الْÙ‚ُÙ„ُÙˆْبُۗ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
2. Bertemu dengan Wali Allah, Ulama, atau Orang Saleh
Berinteraksi dengan orang-orang Saleh dapat membawa ketenangan batin dan memperkuat iman. Kehadiran mereka sering kali mengingatkan kita pada akhirat dan hikmah di balik setiap ujian. Mereka memiliki pemahaman agama yang mendalam (hikmah) dan dapat memberikan nasihat yang menyejukkan, menunjukkan jalan keluar berdasarkan syariat, serta menjadi teladan dalam kesabaran dan tawakal. Kebersamaan dengan mereka diharapkan menularkan aura positif dan kedekatan spiritual.
3. Mendengarkan Nasihat atau Perkataan Ahli Hikmah (Hukama')
Mendengarkan, meresapi, dan mengamalkan nasihat-nasihat bijak dari orang-orang yang diberikan pemahaman mendalam tentang kebenaran (hikmah), yang mampu melihat keterkaitan antara dunia dan akhirat, serta memberikan petunjuk menuju kebajikan. Nasihat dari ahli hikmah memberikan perspektif baru terhadap masalah. Mereka membantu kita memahami bahwa kesulitan adalah bagian dari ujian hidup yang bersifat sementara dan mengandung hikmah besar dari Allah. Nasihat seperti pentingnya sabar, tawakal (menyerahkannya kepada Allah setelah berusaha), ikhlas, dan husnudzan (berprasangka baik) kepada takdir Allah dapat mengubah kegundahan menjadi penerimaan dan ketenangan.
Menghilangkan kesusahan adalah proses kembali kepada Allah dengan hati yang tawakal, serta mencari dukungan dan petunjuk dari sumber-sumber keimanan yang benar.
Penulis: Hanifah Shabrina
