Kembali ke Jalan-Nya

Journey Walisongo
0

Ilustrasi Kerumunan Orang sedang Berada di Masjid (Doc. Pinterest)


Di pagi yang cerah, di bawah pohon mangga, duduklah seorang laki-laki remaja tanggung bernama Rudi. Ia sedang termenung, menatap langit seolah ada harapan yang tersembunyi di sana. Rudi dikenal sebagai preman pasar yang ditakuti warga sekitar. Wajahnya yang menakutkan membuat warga enggan berpapasan dengannya.


Di sudut pasar tradisional yang dipenuhi sampah dan bau busuk, nama Rudi bergaung. Nama itu ditakuti dan disegani warga pasar. Bukan tanpa alasan, setiap pagi pedagang di pasar harus memberikan setoran kepadanya. Jika telat, mereka tahu sendiri akibatnya. Tubuhnya yang kekar dan penuh bekas luka menyiratkan bagaimana kerasnya masa hidupnya. Baginya, pasar adalah pekerjaan dan hidupnya. Kebutuhan sehari-harinya dipenuhi oleh para pedagang pasar dan denda-denda dari larangan yang tidak dipatuhi.


Rudi seorang Muslim, tetapi menjalankan ibadah dan perintah Allah adalah hal yang sudah lama ia tinggalkan. Dunianya hanya seputar pasar, jalanan, dan suara ketakutan dari warga.


Pada siang di hari Jumat. Saat ia sedang menghitung uang setoran hari itu, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Shodiq, seorang marbot baru di masjid lingkungannya, sedang berbelanja di pasar.


“Assalamu’alaikum,” ucap Shodiq.


Rudi terdiam. Kata itu yang dulu selalu diucapkan dirinya ketika hendak pergi mengaji, kini terasa begitu asing. Shodiq yang merasa salamnya tidak ditanggapi, meneruskan kalimatnya.


“Saya Shodiq, marbot baru di Masjid Al-Ikhlas,” sambungnya.


Sudah lama sekali tidak ada seorang pun yang berani menyapa dan berbincang dengannya. Ia segera menjawab dengan terbata.


“Saya Rudi, pemilik daerah pasar. Ada apa?” ujarnya.


“Saya belum hafal jalan pulang ke masjid. Bisakah Mas Rudi menunjukkan arah untuk saya?” tanya Shodiq kepada Rudi.


“Jalannya berkelok-kelok dan agak sulit, terlalu banyak gang. Biar saya antar,” ujar Rudi.


“Baik, terima kasih banyak, Mas,” ujar Shodiq.


Rudi ternyata mempunyai hati yang baik dan lembut. Hanya saja, hatinya tertutup oleh wajah dan perilakunya hingga ia disegani warga.


Sesampainya di masjid, alunan tarhim dari audio masjid sudah terdengar. Suara itu seolah mengajak warga segera bersiap ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat.


“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, Mas, sudah diantarkan ke masjid,” ucap Shodiq sembari menyalami Rudi.


“Sebentar lagi iqamah, Mas. Ayo segera ambil wudu, nanti tertinggal,” ajak Shodiq kepada Rudi.


Rudi terdiam sembari berpikir. Entah sudah berapa lama ia tidak menginjakkan kaki di masjid ini. Setelah hidupnya di pasar, ia tak pernah lagi mengunjunginya. Ia masuk dengan ragu, namun ada keyakinan karena dulu setiap sore ia selalu ke masjid untuk mengaji. Setelah mengambil wudu, ia segera masuk ke masjid untuk mengikuti khotbah dan shalat.


Banyak orang memperhatikannya. Ia merasa malu dan sedih karena dirinya terlihat tidak pantas berada di tempat itu. Dengan kaus oblong dan sarung yang dipinjam dari masjid, ia berusaha menutupi tatonya. Seolah itu adalah kejahatan besar yang akan membuat Allah murka.


***


Di atas sajadah, ia mencoba mengingat dan meniru gerakan yang dulu selalu dilakukannya. Tanpa ia sadari, dari mulutnya mengalir bacaan-bacaan yang seolah tak pernah luput diucapkan. Siang itu, setelah semua orang pulang dan meninggalkan masjid, ia masih duduk termenung. Ia menyadari dirinya sudah terlalu jauh dari jalan Allah. Ia menangis sejadi-jadinya dan menyesali semua perbuatannya.


Kehidupannya yang ada di pasar sekarang terasa aneh. Uang setoran tidak lagi menjadi kepuasan. Suara azan masjid kini yang selalu ditunggunya. Seolah hanya itu yang bisa mengembalikan gairah hidupnya selama ini. Hari itu menjadi saksi perubahan hidupnya. Setiap pulang dari pasar, ia menyempatkan diri ke masjid untuk mengikuti shalat berjemaah. Pintu hati yang selama ini ia tutup rapat, kini perlahan terbuka. Ia kembali menemukan rumah yang sesungguhnya, dan berada di jalan yang Allah karuniai.


***


Di pagi yang cerah, ia sudah memantapkan pilihannya. Ia akan pensiun menjadi preman pasar dan akan mencari pekerjaan halal. Pagi itu ia pergi ke pasar lebih awal dari biasanya. Ia datang bukan untuk meminta setoran, melainkan untuk meminta maaf dan pamit kepada warga pasar. Bahwasanya ia tidak lagi berjaga di pasar dan meresahkan warga. Hal itu disambut baik oleh warga dan pedagang pasar. Ia pamit kembali ke rumahnya dalam keadaan bahagia dan tenang. Sepanjang jalan menuju rumah, ia tidak berhenti senyum dan mengucap syukur kepada Allah.


Penulis : Miftahatus Salmah 

Editor : Miftachul Fattah

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)