Selembar Sajadah di Bawah Ranjang

Journey Walisongo
0

 Ilustrasi Seseorang sedang Bersujud (Doc. Pinterest)

Suara keyboard dari komputer memenuhi sebuah kosan minimalis dan sederhana yang dihuni oleh seorang mahasiswa bernama Dino. Dino adalah mahasiswa semester akhir yang disibukkan dengan berbagai tugas kuliah, terutama skripsi. Diatas meja, buku-buku berserakan dan terbuka, seakan menandakan betapa sibuknya Dino menyiapkan tugas akhir. Namun, dibalik kesibukan itu ada sesuatu yang selalu ia abaikan: selembar sajadah lusuh yang terlipat rapi dibawah ranjang. 


Sajadah itu sudah lama tidak disentuhnya. Debu mulai menempel menjadi saksi betapa lusuhnya sajadah itu, karena Dino lebih memilih bergulat dengan komputer daripada meluangkan sejenak waktunya untuk menghampiri Tuhannya untuk bersujud dan berdoa.


Malam itu, suara azan isya' terdengar keras dari masjid dekat kosan tempat tinggalnya. Dino berhenti sejenak, lalu melanjutkan mengetik. “Nanti saja, setelah selesai,” gumamnya. Namun janji itu selalu ia ingkari. 


~000~


Beberapa hari kemudian, Pak Suho selaku pemilik kos mengetuk pintu kamarnya. “Din, listrik kamarmu sempat turun. Saya periksa sebentar, ya.”


Dino mengangguk dan membiarkan Pak Suho masuk. Pandangannya tanpa sengaja terhenti pada sajadah lusuh di bawah ranjang. Ia tersenyum tipis, lalu berkata pelan,

“Din, sajadah itu tempatmu pulang. Jangan biarkan ia menunggu terlalu lama.”


Ucapan itu sederhana, tapi menghunjam hati Dino. Malam itu, meski ia mencoba kembali fokus pada tugasnya, pikirannya terus teringat pada kalimat Pak Suho.


~000~


Malam berikutnya, Dino terlelap di kursi belajarnya. Dalam tidurnya, ia bermimpi berjalan di jalan gelap yang panjang. Kabut pekat membuat langkahnya tersesat. Ia panik, tak tahu arah jalan pulang. Tiba-tiba, cahaya lembut tampak di kejauhan. Saat ia dekati, cahaya itu ternyata berasal dari selembar sajadah yang terhampar.


Ia ingin meraihnya, namun sebelum sempat, ia terbangun dengan keringat dingin di dahinya. Pandangannya langsung tertuju pada lipatan kusut di bawah ranjang. Hatinya bergetar.


Malam itu juga, ia bangkit. Ia mengambil air wudlu, lalu menghamparkan sajadah lusuh itu. Dengan langkah ragu, ia menunaikan shalat Isya' yang sudah lama ia tinggalkan. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.


~000~


Hari-hari berikutnya, ada yang berubah dari kamar kos itu. Sajadah yang dulu terabaikan kini tak lagi tersimpan di bawah ranjang. Ia selalu terhampar rapi di sudut ruangan, menjadi pengingat sekaligus sahabat baru bagi Dino.


Kesibukan memang belum berkurang. Tugas akhir tetap menumpuk, laporan penelitian masih harus dikejar. Namun di sela itu, Dino tak lagi melupakan panggilan azan. Ia belajar menata waktunya, karena ia sadar ada yang lebih penting dari sekadar mengejar gelar.

TAMAT


Penulis: Putri Afriyani

Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)