Air Mata di Penghujung Sunyi

Journey Walisongo
0

 

Ilustrasi Puisi, Seseorang sedang Bersujud. (Doc. Pinterest.com)


Ya Rabb, lihatlah hamba-Mu yang datang lagi,

Bukan karena pintar, bukan pula karena suci.

Di saat dunia terlelap dan bintang enggan berbagi,

Aku merangkak menuju cahaya-Mu, membawa hati yang sepi.


Sepi yang menyelinap masuk di tengah berisiknya dunia,

Dari janji-janji palsu dan harapan yang terbuang.

Mereka melihatku kuat, berdiri tegak tanpa goyah,

Padahal Engkau tahu, di dalam dada ini ada jiwa yang patah.


Aku datang bukan untuk meminta harta atau kekayaan,

Tapi untuk menumpahkan segala keluh kesah dan air mata.

Ini aduanku ya Rabb, tentang lelah yang tak terungkap oleh lisan,

Tentang langkah yang berat, tentang iman yang sering Engkau uji dengan kesendirian.


Sungguh aku malu, aku hamba yang sering lalai dan lupa,

Dosa ini menumpuk, menggunung lebih tinggi dari cita-cita.

Azan terdengar, tapi hati ini seringkali masih terpaut pada dunia,

Saat Engkau panggil, aku datang terlambat, penuh dengan alasan dan pura-pura.


Aku takut ya Rabb. 

Takut jika semua ibadahku hanyalah topeng semata,

Takut jika saat menghadap-Mu kelak, wajahku tak lagi Engkau sapa.

Namun, di tengah ketakutan ini, hanya satu yang kuingat,

Ampunan-Mu lebih luas dari lautan, rahmat-Mu lebih dekat dari urat.

Dan hanya dalam ke-Islaman ini, aku menemukan tempat berlabuh yang tepat,

Mengajarkan bahwa setiap kepedihan adalah panggilan untuk kembali bertaubat.


Maka, kutaruh kepala ini di atas sajadah yang basah dan lusuh,

Biarlah semua kepura-puraan, semua keangkuhan ini luruh.

Biarlah semua beban yang kubawa hancur di hadapan-Mu,

Karena hanya Engkau yang sanggup menanggung, hanya Engkau yang tahu.


Aku tak lagi mengerti apa yang terbaik untukku,

Aku hanya percaya pada skenario-Mu, pada takdir-Mu yang satu.

Bimbinglah hati yang rapuh ini agar tetap teguh,

Tariklah tangan ini, agar tidak terlepas dari tali kasih-Mu yang penuh.

Jadikanlah kepasrahan ini menjadi kekuatan,

Menjadikan setiap ujian sebagai tangga menuju ketenangan.


Kini, azan Subuh mulai terdengar, membelah keheningan yang tersisa.

Aku bangkit dengan hati yang terasa sedikit lebih lega.

Bukan karena masalah telah hilang, tapi karena hati telah kembali berserah.

Aku telah mengadu, aku telah menangis, dan aku telah diterima.


Terima kasih, Ya Rabb, karena Engkau tak pernah menutup telinga,

Terima kasih, karena Engkau selalu ada di sepertiga malam hamba,

Aku titipkan seluruh hidup, mati, dan jiwaku pada-Mu.

Semoga pengaduan ini menjadi bukti cinta yang tulus dan tak bertepi,

Hingga akhir hayat, aku ingin tetap menjadi hamba-Mu, yang kembali dengan ridha di hati.


Penulis: Luzyana Artanti
Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)