Kesenangan Atau Masa Depan

Journey Walisongo
0

Ilustrasi Seorang Remaja Tengah Berada Difase Emosional yang Tidak Stabil. (Doc. Maman)



‎Keheningan malam pecah ketika kyai mulai berbicara,

‎ 

‎“Kamu itu sudah dewasa loh, tapi masih belum bisa ngontrol emosi!!“ Disusul tangisan seorang Ibu yang menaruh harapan pada anaknya yang mulai tumbuh dewasa di sampingnya. 

‎“Mau sampai kapan kamu kayak gini, Dul? Nunggu ibumu dipanggil baru kamu sadar?“ sambung pak yai. 

‎Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Ya, sekarang aku berada di lingkungan pondok pesantren yang bisa dibilang ketat di antara pondok pesantren yang lain di sekitar.  Mansajul Ulum namanya, terdengar tidak asing untuk orang yang berada dalam lingkungan pondok pesantren. Arti Mansajul Ulum ialah tempat mengukir nya beberapa ilmu, tapi tidak jika yang mengartikannya aku, “Mansajjul Ulum"  merupakan tempat penyiksaan bagi seorang yang menginginkan kebebasan dalam  hidup. 

‎Panggilan orang tua terakhir yang kudapat dari beberapa panggilan sebelumnya. 

‎“Kamu nggak kasihan sama ibumu? Sudah berapa kali beliau datang hanya untuk menebus dosa-dosamu?”

‎Angin yang awalnya tidak ada seketika menerka seluruh tubuhku. 

‎ “Ini peringatan terakhir buat kamu, Dul. Sekali lagi kamu melanggar peraturan sudah nggak ada panggilan orang tua. Tapi nggak usah balik ke pondok lagi.” Kata-kata beliau membuatku nggak bisa tidur pada kala malam itu.

‎Perkenalkan  aku Abdurrohmannirrohim, biasa dipanggil Abdul, Maman, dan senyaman kamu biar bisa akrab denganku. Saat ini aku tengah berada diakhir tahun pengajaran kelas dua Aliyah, di Yayasan Mansajul Ulum. Kelas dua Aliyah merupakan kelas yang paling ringan dibandingkan kelas-kelas yang lain karena pada kelas dua Aliyah siswa tidak ada beban seperti hafalan ataupun tes Alquran. Jadi, para siswa bebas melakukan aktivitas tanpa ada beban tanggung jawab.                                 

‎Siswa kelas dua akhirnya menggunakan waktunya untuk HSM, semacam organisasi di yayasan. Tapi aku tidak iku. Aku lebih suka menghabiskan waktu ku untuk bermain game dan ngopi. Karena bagiku, ikut organisasi juga menambah beban pikiran dan tidak sejalan dengan tujuanku "mencari kebebasan".

‎       

‎Aku kecanduan atau bisa dibilang gila game. Hampir semua remaja di lingkunganku main game moba ini, dan salah satunya aku. Game moba ini membuatku lupa akan semuanya antara peraturan pondok dan kewajibanku seorang santri. Karena di pondok tidak memperbolehkan santri untuk membawa handphone, ada sebuah penyewaan hand Phone di sekitar. Harga penyewaannya hitungannya per Jam. Untuk satu jamnya RP.3000.

‎Setelah berjam-jam panggilan, banyak pemikiran membentur kepalaku. Sepinya malam kemudian mendorongku untuk pergi menghabiskan sisa waktu dan uang untuk ngopi dan main handphone. Selagi masih ada uang jajan jangan pernah mencariku di pondok, itulah sedikit pepatah yang bisa menggambarkan diriku. 

‎Setelah panjangnya keheningan malam dan suara lantunan ayat-ayat Alquran yang mulai terdengar, diriku beranjak untuk meninggalkan kenyamanan ini. Ada sebuah pepatah mengatakan selincah-lincahnya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Nasib malang yang kualami ini bukan hanya sekedar sambaran petir melainkan sambaran dari tuhan. Aku bertemu pengurus pondok saat tengah kesusahan manjat tembok belakang pondok. 

‎“Darimana dul?" tanyanya sembari menatap dengan tatapan elangnya.  

‎“Dari ngopi kang,“ jawabku sambil cengengesan dan keringat dingin.

‎"Ooooh, nanti habis jama’ah subuh kamu menghadap Pak kyai,“ sambung pengurus yang sudah pergi meninggalkanku yang masih membeku di tempat.

‎Pagi yang masih sejuk membuatku kepanasan karna ucapan pengurus yang masih terngiang-ngiang di kepala. Kubasuh tubuh ini dengan air pagi, tapi tidak bisa menghilangkan keresahan.

‎Setelah membersihkan tubuh ini, aku merapikan baju sekolah dan melarikan diri dari pondok. Di sepanjang perjalanan menuju warung kopi dekat dengan Yayasan sekolah, pikiranku sudah tidak lagi memikirkan soal ujian tapi cari pondok yang bebas tanpa ada peraturan. 

‎Setelah goresan pada pertanyaan terakhir segera aku kasih ke pengawas ujian dan bergegas untuk pulang ke halaman rumah. Sesampainya di rumah sudah disambut pelukan hangat seorang ibu yang masih mengharapkan anak bungsunya sambil membawa surat pengeluaran santri dari pondok. 

‎“Ini yang kamu mau?” tanyanya dengan tatapan tanpa harapan beliau.   

Penulis : Abdurohmanirrohim

Editor: Muhammad Hasan

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)