Warak Ngendog: Menggali Hikmah Kearifan Lokal Sebagai Pesan Persatuan dan Kesucian

Journey Walisongo
0

Sesi Penyampaian Materi dari Adin Histerya (kiri). Senin, (13/10). (Doc. Maman)


Semarang, journeywalisongo.blogspot.com — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang telah sukses mengadakan Workshop Lomba Visualisasi Warak 2025, yang berfokus menanamkan pemahaman mendalam pada puluhan peserta mengenai nilai luhur dan pesan kebaikan yang tersimpan dalam Warak Ngendog. Kegiatan ini bertujuan memastikan setiap karya visual yang lahir tidak hanya indah, tetapi juga berfungsi sebagai media penyebar pesan etika dan kerukunan bagi masyarakat luas. Workshop yang digelar di Ruang Teater Gedung Baru Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) ini menekankan pentingnya membuat karya yang sarat makna, yakni yang mengajak pada kebaikan (amar ma’ruf) dan menjadi penerang di tengah hiruk pikuk informasi. Senin, (13/10)


Pemerhati Sejarah dan Budaya, Adin Histerya mengungkapkan, meskipun catatan komprehensif tentang Warak Ngendog sulit ditemukan, warisan budaya ini mengandung petunjuk spiritual dan sosial yang sangat berharga. Adin menyebutkan dua inti filosofi Warak Ngendog yang patut menjadi perenungan bagi setiap warga.


Pertama, penelusuran kata Warak dikaitkan dengan bahasa Arab, Wara’i, yang bermakna 'suci' atau 'menjaga diri'. Filosofi ini secara mendalam terhubung dengan tradisi penyambutan Bulan Suci Ramadan, berfungsi sebagai pengingat agar setiap individu melakukan introspeksi dan menjauhi hal-hal yang kurang baik. Ini merupakan cara kearifan lokal mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan mental sebelum memasuki ibadah puasa, mengajarkan pentingnya kesucian hati dan pengendalian diri.


Kedua, wujud Warak Ngendog sendiri adalah perwujudan fisik dari akulturasi budaya yang damai antara tiga komunitas utama di Semarang—Tionghoa (kepala naga), Arab (badan Buraq/Unta), dan Jawa (kaki kambing). Ikon ini mengajarkan pelajaran berharga tentang persatuan di tengah keberagaman. Warak Ngendog menjadi simbol nyata bahwa perbedaan etnis dan latar belakang adalah kekuatan yang harus dirawat, bukan menjadi sumber perpecahan. Ikon ini mendorong semangat untuk menjadi pemersatu umat dan menjunjung tinggi toleransi, sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran universal tentang keharmonisan.


Melalui pembekalan yang menyentuh dimensi sejarah dan filosofi ini, Disbudpar Semarang berharap para peserta dapat menghasilkan karya visual yang kuat, menjadi jembatan penyampai pesan persatuan dan cerminan akhlak mulia dalam kesenian. Karya-karya tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat dan inspirasi kebaikan bagi khalayak luas.


Penulis:Miftachul Fattah

Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)