Review Film 17 Surat Cinta: Ketika Manusia Kehilangan Peran sebagai Khalifah

Journey Walisongo
0

Thumbnail Film 17 Surat Cinta di Channel Youtube Ekspedisi Indonesia Baru. (Doc. Ayu Triana)

Judul : 17 Surat Cinta

Sutradara: Dandhy Laksono

Produksi: Ekspedisi Indonesia Baru (EIB)

Durasi: 1 jam 28 menit

Tayang: 25 November 2024 

Resentator: Ayu Trianasari


Film dokumenter 17 Surat Cinta dari Indonesia Baru karya Dandhy Laksono bukan hanya sekadar tontonan. Melainkan sebuah renungan tentang hubungan manusia, alam, dan nurani. Melalui kisah dua tokoh utama yaitu Rubama, seorang wildlife photographer dan Lukmanul Hakim atau Alam seorang analis data, 17 Surat Cinta menyingkap kenyataan pahit. Kenyataan manusia yang sering kali mengeksploitasi bumi, dengan dalih kebutuhan dan pembangunan, namun lupa menjaga keseimbangannya.


Keduanya menjadi perantara pesan yang dalam, bahwa alam bukanlah milik manusia semata, tetapi amanah dari Tuhan yang harus dijaga. Warga di sekitar Suaka Marga Satwa Rawa Singkil turut menjadi saksi sekaligus korban perubahan ekosistem yang kian rusak. Dari merekalah lahir “17 surat cinta” yang dikirim kepada pemerintah. Bukan sekadar kritik, tapi juga jeritan hati agar bumi kembali dihormati.


Kenyataan yang Menggugah Emosi

Dandhy Laksono mengemas film ini dengan gaya layaknya film dokumenter, namun kuat secara emosional. Di awal, penonton disuguhi pemandangan kehidupan di hutan Aceh, rumah bagi flora, fauna, dan manusia yang hidup berdampingan. 


Namun seiring berjalan, keindahan itu berubah menjadi kepedihan. Pepohonan dibakar dan hutan perlahan semakin dikikis oleh alat berat. Gambut mengering, satwa kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat harus berjuang di tengah banjir serta lahan yang rusak. 


Film itu menegaskan keserakahan manusia terhadap sumber daya alam tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga melanggar amanah Tuhan. Dalam pandangan Islam, Allah telah berfirman:


“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”

(QS. Al-A’raf: 56)


Ayat ini seolah menjadi refleksi dari isi film. Peringatan agar manusia tidak menuruti nafsu untuk keuntungan semata dan mengesampingkan keseimbangan alam.

 

Alam Sebagai Amanah, Bukan Komoditas

Film 17 Surat Cinta juga menunjukkan bagaimana manusia sering kali gagal menempatkan dirinya sebagai khalifah di bumi. Dalam Islam, manusia diberikan tanggung jawab untuk memelihara ciptaan Tuhan, bukan mengeksploitasi demi keuntungan sesaat. Kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Lahan yang seharusnya untuk konservasi, justru dibuka untuk industri. Tumbuhan, hewan, dan masyarakat adat kehilangan ruang hidup mereka.


Meskipun tidak ada adegan dramatis yang dibuat-buat, namun pesan tersampaikan secara emosional. Seolah mengatakan segalanya yang berada di bumi adalah bagian dari keseimbangan hidup yang harus dijaga. Mereka menyampaikan “surat cinta” kepada negeri, agar manusia kembali sadar pada batasnya.


Pesan Moral dan Spiritualitas

Di balik kesan dokumenter yang faktual, 17 Surat Cinta juga mengandung pesan spiritual yang kuat. Ketika penonton menyaksikan warga yang tetap bertahan meski kehilangan lahan, atau satwa yang kehilangan habitatnya, kita diajak merenungkan makna kesyukuran dan tanggung jawab.


Film ini mengingatkan bahwa kerakusan manusia pada kekayaan alam hanyalah bentuk dari nafsu duniawi yang menipu. Dalam Islam, segala bentuk perusakan lingkungan berarti mengingkari nikmat Allah. Rasulullah SAW pun pernah bersabda:


“Jika terjadi kiamat, sedang di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka tanamlah.” (HR. Ahmad)


Pesan ini menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah, bahkan hingga detik terakhir kehidupan.


Cermin Kehidupan Masa Kini

Isi film 17 Surat Cinta terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini. Berbagai peristiwa seperti penambangan yang merusak ekosistem, banjir akibat alih fungsi lahan, dan konflik agraria yang belum selesai menunjukkan bahwa manusia masih sulit menahan diri dari kerakusan.


Film ini seolah menjadi cermin bagi bangsa Indonesia, bahwa kemajuan seharusnya tidak berarti mengorbankan keseimbangan bumi. Dalam Islam, keberkahan tidak datang dari hasil yang besar, tapi dari cara yang baik dan penuh tanggung jawab.


17 Surat Cinta dari Indonesia Baru bukan hanya film dokumenter, melainkan pengingat moral bahwa alam bukan objek untuk dieksploitasi, melainkan titipan Tuhan untuk dijaga. Dandhy Laksono dengan jujur menampilkan realitas tanpa perlu drama berarti, membiarkan kerusakan alam berbicara sendiri.


Film ini layak ditonton oleh semua kalangan baik masyarakat umum, akademisi, maupun pemuka agama sebagai refleksi tentang bagaimana seharusnya kita menata hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Mengajak kita semua untuk melihat realita hari ini. Sebab mencintai alam sejatinya adalah bentuk nyata mencintai Sang Pencipta.


Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)