JARILIMA dan WALHI Gandeng Tokoh Lintas Agama Suarakan Climate Strike

Journey Walisongo
1

Refleksi Tokoh Lintas Agama, pada Aksi Semarang Climate Strike 2025 Jumat, (14/11). (Doc. Ayu)

Semarang, journeywalisongo.blogspot.com  Suasana Kamis pagi di kawasan Patung Diponegoro Undip (Universitas Diponegoro) Pleburan dipadati ratusan massa dari pelajar hingga tokoh agama dalam aksi Semarang Climate Strike yang diadakan oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan JARILIMA (Jaringan Peduli Lingkungan dan Alam), pada Jumat (14/11). Agenda tahunan tersebut, kali ini mengusung tema Gas Transition Now


Para tokoh lintas agama mulai dari Bhikku, Biarawati, hingga Romo turut turun ke jalan, menuntut pemerintah mempercepat transisi energi bersih dan berkeadilan, melindungi hutan serta pesisir, serta menetapkan kebijakan iklim yang berpihak pada rakyat dan keadilan sosial ekologis.


Bukan hanya tokoh agama, peserta aksi yang terlibat berasal dari sekolah eduhouse tingkat TK hingga SD, Klub Merby, SMA Kebondalem, Jaringan Gusdurian UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo, Mahasiswa Binus (Bina Nusantara), aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum. Aksi diisi orasi dari perwakilan peserta, penampilan teatrikal, dan pembacaan puisi dari pelajar, serta refleksi para tokoh agama.


Bhikku Dhittisampanno Mahathera, perwakilan tokoh agama Budha, dari Vihara Buddhajayanti Kassap mengutarakan alasannya turun ke jalan. 


“Selain ajakan dari teman-teman pelita, memang kita juga menyadari bahwa kejadian-kejadian akhir ini yang menurut saya human error ya. Karena pembuangan sampah yang tidak teratur dan penebangan pohon yang tidak terarah. Walaupun di sisi kita tahu terjadi pencairan di kutub selatan maupun utara, tapi di sisi lain kita memang harus sadar diri bahwa tingkah laku kita yang kurang bagus menurut saya,” katanya.


Koordinator lapangan aksi dari JARILIMA, Ellen Nugroho, menyampaikan alasannya menggandeng tokoh lintas agama. 


“Ya, untuk menunjukkan bahwa pesan menjaga dan merawat bumi ada di semua agama. Karena kita negara yang religius, keagamaan bukan sekedar beribadah dan berdoa. Tetapi juga melakukan suatu aksi nyata menyelamatkan bumi, merawat bumi sebagai rumah bersama,” kata Ellen.


Sementara itu, perwakilan Jaringan Gusdurian UIN Walisongo Semarang, Heromando, menilai suara masyarakat Jawa Tengah tentang banjir dan kerusakan lingkungan belum cukup direspons pemerintah. 


“Kalau di tahun 2023 itu ada buku yang bernama pemerintah lihat lihat. Artinya banjir yang terjadi di semarang itu sperti tahunan dan tontonan. Bagi mereka para pemangku kebijakan,” katanya.


Ellen menambahkan dampak krisis iklim sudah terasa di Jawa Tengah dan Semarang melalui cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, gagal panen, dan krisis air. Ia menyebut kelompok perempuan dan penyandang disabilitas sebagai pihak yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut.


Reporter: Ayu Trianasari

Editor: Hanifah Shabrina

Posting Komentar

1Komentar

Posting Komentar