Ilustrasi Seseorang Membaca Al qur’an. (Doc. Pinterest.com)
Malik merasa dunianya sudah selesai, baru saja ia merasakan tubuhnya diangkat, dimasukkan ke dalam lubang yang sempit. Suara tangis keluarganya sudah samar-samar, tertutup oleh suara tanah yang berjatuhan di atas kayu penutupnya. Semuanya gelap, gelap sekali, seolah semua lampu di alam semesta mati.
Malik
sekarang benar-benar sendirian, di dalam kamar sempit ini tidak ada ponsel,
tidak ada teman ngopi, tidak ada kasur empuk, dan keheningan yang memekakkan
telinga.
Rasa
takut mulai menusuk, ia ingat cerita-cerita tentang Munkar dan Nakir, tentang
siksa yang mengerikan. "Aduh, kenapa waktu di dunia dulu aku banyak
main-main, ya?" batinnya sangat menyesal.
Tiba-tiba,
di tengah kegelapan total itu, munculah cahaya lembut, cahaya itu bukan seperti lampu,
tapi lebih seperti sinar bulan yang menenangkan. Bersamaan dengan cahaya,
datanglah sesosok berwujud indah yang sangat bersih, berpakaian rapi, dan
wanginya enak sekali.
Sosok
indah itu tersenyum hangat, senyum yang langsung membuat rasa takut Malik
hilang separuhnya.
“Kamu
siapa?” tanya Malik, suaranya pelan sekali. “Aku tidak pernah bertemu orang
sehangat ini.”
Sosok
indah itu mendekat dan memegang bahu Malik. “Aku ini Sahabat Setia mu, dulu
kita sering bertemu setiap malam.”
Malik
mengerutkan dahi. “Setiap malam? Di mana?”
Sosok
indah itu menjawab dengan suara merdu dan tenang. “Aku adalah yang kamu baca
sebelum kamu tidur, aku adalah Surat Al-Mulk.”
Malik
langsung teringat, Oh iya! Surat yang selalu ia usahakan baca, meskipun kadang
cuma sebentar dan sambil mengantuk, sebelum ia memejamkan mata di Kasur, ia
tahu surat ini dijanjikan menjadi penyelamat dari siksa kubur.
“Sekarang,
di kamar gelapmu ini, aku datang sebagai pembelamu,” kata Sahabat Setia (Surat
Al-Mulk) itu.
Tak
lama setelah itu, Malik mendengar suara langkah berat. Dua sosok seram,
berwajah keras dan menakutkan, muncul di ujung ruang gelap itu. Mereka adalah
para Malaikat Penanya.
Malik
gemetar, Ia tahu gilirannya sudah tiba.
Saat
para Malaikat itu mulai bertanya dengan suara menggelegar, Sahabat Setia (Surat
Al-Mulk) langsung berdiri di depan Malik, memasang badan.
Ia
tidak berdebat, tapi ia berbicara dengan para Malaikat itu, memohon dengan
bahasa yang penuh hikmah dan kemuliaan. Ia seolah-olah berkata, "Jangan
sentuh dia, dia dulu membacaku, dia menghafalku, aku adalah pelindungnya, ia
adalah orang baik."
Para
Malaikat itu melihat pembelaan yang begitu kuat dari sosok mulia itu, mereka
tidak bisa membantah. Mereka tahu, janji Allah itu benar, surat ini adalah
pelindung Malik. Akhirnya, mereka berdua pun pergi.
Alam
gelap itu kembali sunyi. Tapi, Malik tidak lagi sendirian.
Sahabat
Setia (Surat Al-Mulk) itu tetap di sampingnya, cahaya lembutnya terus
menyinari, membuat alam sunyi itu terasa luas dan nyaman, bukan lagi sempit dan
menakutkan.
“Istirahatlah,
Malik,” bisik Sahabat Setia itu. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Sampai hari
Kiamat tiba, aku akan menemanimu di sini. Kamu sudah aman sekarang, berkat
usahamu dulu yang tidak pernah meninggalkanku.”
Malik
pun tersenyum lega. Ia menyadari, Sahabat Sejati itu bukanlah harta atau
pangkat, melainkan amalan dan firman Allah yang ia pelihara, yang datang
menjadi penerang saat ia benar-benar ditinggal semua orang.
Alam
sunyi itu, kini terasa seperti tempat peristirahatan yang damai, karena di
dalamnya ada satu-satunya sahabat yang setia menemani.
Penulis: Triana Putri
Editor: Hanifah Shabrina