Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali menyesakkan, kita selalu mencari tempat untuk "pulang", sebuah ruang sunyi yang mampu meredakan badai di dalam jiwa. Pencarian ketenangan, kesunyian, kedamaian hingga muara yang membuat diri dapat kembali pada tujuan hidup. Berusaha memaknai dan menemukan arti diri dalam kehidupan. Sebagian orang mungkin mencari pelarian dalam perjalanan jauh, keramaian, atau bahkan kesibukan tanpa henti, yang mereka sebut sebagai "healing" atau penyembuhan diri.
Tetapi, sering kali setelah pencarian usai, setelah keramaian mereda, atau setelah kesenangan itu berlalu, kita kembali pada diri yang sama, dengan beban yang sama dan bahkan dengan kekosongan yang lebih besar. Resah itu, rasa gundah yang tak bernama, cemas yang tak berujung, selalu menunggu kita di ambang pintu, karena kita hanya berpindah dari satu labirin ke labirin yang lain, bukan menemukan jalan keluar yang permanen.
Lantas, di manakah sejatinya healing yang paling nyaman dan abadi itu berada?
Jawaban atas pencarian itu tersemat indah dalam firman-Nya, sebuah pedoman yang tak lekang oleh waktu, Surah Ar-Ra'd ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِاللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram"
Ayat ini adalah peta menuju kedamaian sejati. Ia menegaskan bahwa tempat pulang segala resah bukanlah destinasi fisik di ujung dunia, melainkan sebuah kondisi spiritual yang berpusat pada mengingat Allah (dzikrullah).
Ketika kekhawatiran datang bergelombang, saat hati diliputi rasa cemas akan masa depan, atau ketika kegagalan terasa begitu menyakitkan, berdzikir adalah jangkar yang menahan kita. Mengingat-Nya membawa kita pada kesadaran mendalam bahwa kita tidak sendirian. Kita memiliki sandaran yang Maha Kuat, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui.
Dzikrullah (mengingat Allah) adalah healing ternyaman karena ia membersihkan hati dari segala kotoran duniawi, rasa iri, dengki dan ambisi yang melampaui batas. Ia adalah tempat pulang yang selalu terbuka, tak peduli seberapa jauh kita tersesat dalam dosa atau seberapa besar beban masalah yang kita pikul.
Saat lisan berucap tasbih, tahmid, tahlil, atau istighfar dan hati menghadirkan makna kebesaran-Nya, seketika itu pula ketenangan merambat. Resah yang semula mencekik perlahan mengendur dan jiwa menemukan kelegaan.
Inilah janji pasti dari Sang Pencipta: hanya dengan mengingat-Nya, hati menjadi tenteram (taṭhma`innul-qulūb).
Maka, setiap kali kita merasa lelah dan mencari penyembuhan, ingatlah bahwa pusat healing sesungguhnya adalah kembali kepada Allah. Jadikanlah dzikir sebagai napas kehidupan, tempat mengadu segala keluh kesah dan pintu gerbang menuju ketenangan abadi yang tidak akan pernah pudar.
Penulis: Hanifah Shabrina
.jpeg)