Ilustrasi Seseorang sedang Berjalan, di Tengah Keadaan yang Berlalu Cepat. (Doc. Gemini.ai)
Saat ini, banyak anak muda yang hidupnya seperti sedang dikejar waktu. Setiap hari, kita disuguhi pencapaian orang lain lewat layar. Ada yang baru menikah, baru beli mobil, baru liburan, baru punya usaha, atau baru diwisuda dengan predikat terbaik. Semua terlihat bahagia dan produktif, seolah dunia ini hanya milik mereka yang cepat dan sibuk.
Namun di balik itu, banyak hati muda yang diam-diam merasa tertinggal, tidak cukup, dan kehilangan arah hidup. Inilah yang disebut quarter life crisis, masa di mana kita mulai mempertanyakan arah dan makna perjalanan hidup sendiri.
Fenomena ini semakin terasa kuat karena satu hal yakni "FOMO"
FOMO atau Fear of Missing Out membuat kita takut ketinggalan tren, takut terlihat biasa saja, bahkan takut hidup tidak semenarik orang lain. Padahal, tanpa sadar rasa takut itu membuat banyak orang justru semakin lelah dan kehilangan jati diri.
Sebagai mahasiswa, aku sempat terjebak dalam lingkaran ini. Aku hanya ikut dua organisasi kampus, dan bagiku itu sudah cukup. Tapi semakin lama muncul rasa insecure. Banyak temanku yang ikut lebih dari tiga kegiatan, sering tampil di acara kampus, punya bisnis, dan aktif di mana-mana. Saat melihat mereka, aku sempat merasa kecil hat8 dan bertanya-tanya,
Apa aku kurang berusaha?
Apa aku tertinggal jauh?
Rasa cemas itu tumbuh semakin besar ketika media sosial menampilkan segala hal secara berlebihan. Kadang aku bukan hanya membandingkan prestasi, tapi juga gaya hidup. Misalnya, saat teman lain beli skincare viral, hijab terbaru, atau gadget baru, aku juga tiba-tiba ingin punya.
Padahal kalau jujur, keinginan itu bukan karena butuh, tapi karena takut terlihat
“nggak update”
Namun, setelah beberapa kali mengikuti keinginan itu, aku sadar sesuatu yakni rasa senang yang cepat hilang. Barang baru memang bikin bahagia sesaat, tapi tidak cukup lama untuk menenangkan hati.
Dari situ aku mulai paham, FOMO bukan tentang ingin punya sesuatu, tapi tentang takut dianggap kurang dari orang lain.
Aku mulai belajar saat insecure mulai menjadi cermin, aku melihat rasa insecure dari sisi lain. Ternyata, perasaan itu bukan musuh tapi cermin yang menunjukkan bahwa aku sedang kehilangan arah dalam menilai diri sendiri.
Rasulullah ï·º pernah bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Hadits ini menampar lembut. Karena selama ini, aku terlalu sering melihat ke atas, membandingkan hidup dengan orang lain, padahal lupa menghargai langkah kecil yang sudah aku tempuh.
Aku sadar bahwa menjadi sibuk bukan berarti sedang berkembang. Kadang, orang yang paling sibuk justru sedang berlari dari kegelisahannya sendiri.
Istiqamah dalam hal kecil seperti tetap berkomitmen di dua organisasi ternyata jauh lebih bermakna daripada mengikuti semua hal tanpa arah. Dalam Islam, istiqamah berarti teguh dan konsisten dalam kebaikan, meskipun tantangan datang silih berganti.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati...’” (QS. Fussilat: 30)
Ayat ini menjadi pengingat kuat bahwa ketenangan bukan datang dari banyaknya hal yang kita lakukan, tapi dari arah yang jelas dan hati yang tenang.
Bagi aku, istiqamah berarti menolak dorongan untuk selalu ikut tren, memilih jalan sederhana tapi pasti, dan berani berkata “tidak” ketika sesuatu tidak sesuai dengan nilai diri.
Kini aku mulai menerapkan JOMO, Joy of Missing Out.
Aku belajar menikmati momen tanpa harus selalu ikut tren. Aku juga mulai merasa bahagia saat bisa menolak keinginan yang tidak perlu. Dari situ aku sadar, nilai diri tidak diukur dari jumlah barang, likes, atau validasi sosial, melainkan dari ketulusan dalam menjalani proses.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Konsep qana’ah atau rasa cukup adalah obat paling mujarab bagi generasi yang haus validasi ini. Ketika aku berhenti membandingkan dan mulai fokus bersyukur, hidup terasa lebih ringan. Aku belajar bahwa keberhasilan sejati bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling tenang menjalani perjalanannya.
Quarter life crisis bukan tanda kegagalan, tapi tanda bahwa kita sedang tumbuh. Rasa bingung, takut, dan insecure adalah bagian dari proses menuju kedewasaan. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menanggapinya apakah terus berlomba tanpa arah, atau berhenti sejenak untuk mengenal diri.
Kini aku percaya bahwa istiqamah adalah bentuk keberanian terbesar di era digital ini. Berani menjadi diri sendiri, berani cukup, dan berani tidak selalu ikut arus.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan siapa yang paling teguh menjaga arah.
FOMO memang tidak bisa dihapus sepenuhnya, tapi bisa dikendalikan dan istiqamah bukan berarti berhenti berkembang, melainkan tetap tenang di tengah kebisingan dunia. Karena sesungguhnya, ketika kita berhenti membandingkan diri, di situlah kita benar-benar mulai hidup.
Penulis : Amaliyah
Editor : Miftachul Fattah
