Ilustrasi Pita Hitam. (Doc. Gemini.ai)
Ada yang pergi di tengah cahaya sore ketika langit belum sempat menutup doanya. Ada jejak langkah yang berhenti di jalan pulang bukan karena lelah, tapi karena Tuhan lebih dulu memanggilnya pulang.
Kami masih di sini, menatap sisa senja itu yang kini tak lagi sama. Di antara tawa yang pernah kau tanam di tanah pengabdian, kami temukan sunyi yang tumbuh dalam diam.
Getas menjadi saksi bahwa perjuangan bisa berhenti bukan karena akhir, melainkan karena surga lebih merindukan jiwa yang tulus. Kau datang membawa semangat, membangun cinta di desa, mengajarkan arti hidup sederhana dan pulang dengan cara yang paling abadi meninggalkan kenangan, bukan kesedihan.
Kami belajar bahwa hidup adalah titipan dan setiap nafas adalah janji yang suatu saat harus dikembalikan. Bahwa di balik duka ada pesan lembut dari langit:
“Yang bernyawa pasti akan kembali.”
Kini namamu jadi doa di setiap sujud kami ceritamu jadi cahaya di langkah-langkah kami dan karyamu tetap hidup di hati yang kau sentuh. Mungkin jasadmu tak lagi bersama kami tapi semangatmu tak pernah mati.
Sebab di setiap pengabdian yang kami lanjutkan,
ada wajahmu tersenyum di antara dedaunan,
ada suaramu memanggil dalam desir angin sore.
Dan kami tahu,
kau telah kembali,
ke rumah yang sejati,
ke pelukan yang tak lagi mengenal perpisahan.
Penulis : Miftachul Fattah
Editor: Hanifah Shabrina
